NOVEL ‘BELENGGU’ DAN FORMALISME RUSIA


Pada makalah ini, akan dipaparkan kaitan antara Formalisme Rusia dan Novel Belenggu. Novel Belenggu sendiri adalah salah satu novel di jaman pujangga baru karya Armijn Pane yang termasuk karya-karya fenomenal dan dapat menyihir pembaca karena ceritanya yang sangat menarik untuk dibaca.

Sebelum membahas lebih jauh, tentu perlu diketahui apa itu Formalisme Rusia. Formalisme Rusia merupakan suatu paham kesusasrtaan yang lebih tertarik pada ’metode’ dalam bersastra. Para formalis lebih banyak mencurahkan perhatian untuk penetapan sebuah ’ilmiah’ bagi teori sastra.

Formalisme Rusia juga memandang ’muatan’ kemanusiaan (emosi-emosi, ide-ide, dan realitas pada umumnya) tidak mempunyai makna sastra dalam dirinya, melainkan sekedar menyediakan sebuah konteks untuk memfungsikan ’sarana-sarana’ kesastraan. Ini berarti Formalisme Rusia hanya memandang sastra sebagai sebuah konteks kesastraan yang dapat diterima oleh penikmatnya. Formalisme Rusia tidak menilai bagaimana suatu karya dapat berpengaruh bagi penikmatnya melainkan hanya menyuguhkan suatu karya yang benar-benar sastra. Tidak menitik beratkan pada apa yang ingin disampaikan oleh suatu karya, atau nilai-nilai kemanusiaan apa yang ada dalam suatu karya bahkan apakah suatu karya itu memiliki nilai estetika atau tidak.

Formalisme Rusia hanyalah menilai suatu karya melalui sarana-sarananya. Misalnya sarana bahasa yang disuguhkan dalam suatu karya. Apakah itu merupakan bahasa sastra atau bahasa seadanya.

Sangat berbeda dengan kaum Kritikus Baru yang sangat mencermati nilai-nilai yang terkandung dalam karya sastra. Misalnya nilai moral, budaya, estetika dan sebagainya.

Novel Belenggu ini menyuguhkan karya yang sangat menarik. Dilihat dari segi cerita, penokohan, sudut pandang hingga bahasanya. Novel Belenggu menceritakan tentang kehidupan rumah tangga yang tidak lagi harmonis. Penuh dengan kemisteriusan. Cerita yang disuguhkan mengandung nilai-nilai budaya, etika dan moral yang dapat mempengaruhi pembacanya. Penokohan juga sangat baik karena memberikan karakter-karakter yang pasti dan tidak berbelit-belit. Menggunakan setting budaya Jawa yang sangat khas di masa lalu. Kental dengan seni dan etikanya.

Dalam tugas ini, yang dititikberatkan mengenai formalisme Rusia adalah segi bahasanya. Bahasa yang disuguhkan oleh Armijn Pane dalam novel Belenggu ini sangat khas. Menunjukkan ciri-ciri sastra yang murni. Sehingga pembaca dapat mencermati bahwa karya ini adalah benar-benar sastra. Bahasa yang tidak terlalu baku dan juga tidak terlalu informal. Bahasa yang digunakan sangat indah dan mencirikan sastra sesungguhnya. Apalagi ditambah dengan puisi-puisi yang juga semakin memperkaya karya.

Contohnya saat Armijn Pane menggunakan majas perbandingan yang dianalogikan dengan tabiat Yah dan Tini yang terdapat pada halaman 67 yang berbunyi :

Yah, tiada gelap, tiada tersembunyi, ialah pemandangan luas, disinari matahari, pemandangan lepas, tiada teralang oleh barang sesuatu juga. Tini gelap, pintu jiwanya tertutup, dikuncinya, kesimpulan pikiran yang hidup tersembunyi dalam dirinya. Tini gunung berapi yang banyak tingkah!

Atau seperti ucapan Kartono terhadap Yah di halaman 93 yang benar-benar sangat merasuk ke jiwa. ”Ah, Yah, adakah orang yang mengenal lagu di dalam hatiku?” dan ”Maksudku,.. maksudku, tahukan kita dasar hati kita sendiri, apa yang menalun, bersuara, menangis dalam hati jiwa kita?”

Adapula bahasa yang terlampir dalam perkataan-perkataan tokoh di dalam novel yang menggambarkan emosi Hartono yang sangat kuat dari tokohnya yang dipaparkan pada halaman 115 yakni ”Lupakanlah, matikanlah angan-angan. Lepaskanlah belenggu ini. Buat apa bergantung pada zaman dahulu”. Dan juga emosi Tini ”Coba angan-angankan, jiwa digantung! Mari tuan-tuan, nyonya-nyonya, disini ada jiwa digantung!”

Dalam novel Belenggu ini pula Armijn Pane berhasil mendeskripsikan perasaan hati tokoh Tini yang juga sangat menyentuh dan dapat ditafsirkan oleh pembaca yang paparannya terdapat di halaman 136 : Haru biru yang selama ini dalam hatinya sudah hilang sama sekali. Belenggu yang sebagai mengikat semangatnya sudah terlepas. Di hadapan mata semangatnya dengan terang memanjang jalan yang akan ditempuhnya.

Puisi-puisi yang disuguhkan oleh Armijn Pane juga sangat memperkaya novel ini. Bahasa puisi yang sangat menyentuh hati pembaca juga dapat menghipnotis. Seperti contoh puisi di halaman 145 :

Dari dulu sudah kutahu,

Aku cinta padamu saja.

Selalu engkau dalam kalbuku,

Tidak hilang dari jiwa.

 

Dari dulu sudah kutahu,

Cintaku tiada akan mati.

Selama masa selama waktu,

Ke liang kubur kubawa mati

 

Formalisme Rusia tidak menilai apa yang terkandung atau apa makna tersirat dari novel Belenggu ini. Yang ingin dinilai adalah bahasanya. Bahasaya sangat menarik dan sangat mencirikan kesastraan. Metode yang dipakai Armijn Pane dalam membuat karyanya begitu tersusun rapi. Dan dapat dinilai oleh Formalisme Rusia sebagai sastra yang baik.

Photobucket

About these ads

7 thoughts on “NOVEL ‘BELENGGU’ DAN FORMALISME RUSIA

  1. mba,saya mau tau nih resebsi ttg novel belenggu..mulai dari thn terbit,pengarang,tebal halaman,POKOKE SEMUANA DEH..
    THANKS BEFORE..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s