KONFLIK


1. Pengertian Konflik

Pengertian konflik adalah suatu proses sosial antara dua pihak atau lebih, di mana pihak yang satu berusaha menyingkirkan pihak lain dengan cara menghancurkan atau membuatnya tidak berdaya. Konflik adalah persaingan dan pertentangan untuk memenangkan kepentingan atau sumber-sumber daya yang ada dalam masyarakat. Konflik juga merupakan kegalauan yang bersumber dari ketidaksepahaman antar pendapat beberapa pihak.

Sebagai proses sosial, konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan yang agaknya sulit didamaikan atau ditemukan kesamaannya. Perbedaan tersebut antara lain menyangkut ciri fisik, kepandaian, pengetahuan, adat istiadat, dan keyakinan.

Konflik merupakan situasi wajar dalam setiap masyarakat. Bahkan tidak ada satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik, entah dalam cakupan kecil ataupun besar. Konflik dalam cakupan kecil misalnya konflik dalam keluarga, sedangkan konflik dalam cakupan besar misalnya konflik antargolongan atau antarkampung.

Sedangkan dalam analisa yang dilakukan Weber terhadap masyarakat, konflik menduduki tempat sentral. Konflik merupakan unsur dasar kehidupan manusia dan tidak dapat dilenyapkan dari kehidupan budaya manusia. Manusia dapat mengubah sarana-sarana, obyek, asas-asas atau pendukung-pendukungnya, tetapi tidak dapat membuang konflik itu sendiri.

Di tanah air sendiri sudah berpuluh-puluh konflik yang terjadi sejak zaman kuno bahkan zaman modern seperti sekarang ini. Di zaman kuno dapat diperhatikan contoh, konflik antara hindu dan budha. Dan juga di zaman modern seperti sekarang, dapat dilihat dari meledaknya konflik Aceh beberapa waktu lalu. Diketahui bahwa Aceh ingin memisahkan diri dari Indonesia.

Selain konflik dalam berbangsa dan bernegara, yang lebih dirasakan oleh masyarakat kebanyakan adalah konflik dalam keluarga. Konflik antara anak dan bapak seperti adanya ketidakserasian pendapat tentang masa depan anak yang tidak disetujui oleh bapak, anak dan ibu misalnya mengenai jodoh pilihan anak yang tidak disetujui oleh ibu, anak dan anak misalnya konflik mengenai warisan orang tua dan sebagainya. Bahkan hal-hal semacam ini tidak jarang ditemui dalam kehidupan sehari-hari bahkan mungkin dalam keluarga sendiri. Sehingga tidak dapat dipungkiri bahwa potensi konflik merupakan naluri kehidupan setiap manusia.

2. Faktor-faktor penyebab konflik.

Faktor-faktor penyebab konflik adalah sebagai berikut :

a. Perbedaan pendapat atau pemahaman antar individu dengan individu lainnya.

b. Perbedaan latar belakang atau kebiasaan adat istiadat masyarakat yang satu dengan yang lainnya, sehingga menghasilkan perbedaan golongan-golongan. Dari perbedaan ini dapat menimbulkan pemahaman-pemahaman yang berbeda tentang suatu kebiasaan satu golongan sehingga menimbulkan konflik.

c. Perbedaan kepentingan antara individu dan kelompok, diantaranya menyangkut bidang ekonomi, politik, dan sosial.

d. Adanya perubahan yang cepat dari nilai-nilai yang sudah mendarah daging bagi suatu masyarakat.

3. Macam-macam konflik

Pembagian konflik menurut Dahrendorf adalah sebagai berikut :

a. Konflik antara atau dalam peranan sosial, misalnya antara peran dalam keluarga dan profesi.

b. Konflik antara kelompok-kelompok sosial.

c. Konflik antara kelompok yang terorganisasi dengan kelompok yang tidak terorganisasi.

d. Konflik antara satuan nasional.

e. Konflik antar negara atau antara negara dengan organisasi nasional.

4. Akibat Konflik

Hasil dan akibat suatu konflik adalah sebagai berikut :

a. Meningkatkan solidaritas sesama anggota kelompok yang mengalami konflik dengan kelompok lain.

b. Keretakan hubungan antara anggota kelompok, misalnya akibat konflik antar suku.

c. Perubahan kepribadian pada individu, misalnya adanya rasa benci dan saling curiga akibat perang.

d. Kerusakan harta benda dan hilangnya nyawa manusia.

e. Dominasi bahkan penaklukan salah satu pihak yang terlibat dalam konflik.

5. Keanekaragaman Budaya sebagai Potensi Terjadinya Konflik

Keanekaragaman budaya sangat berpengaruh terhadap terjadinya konflik. Seperti yang dijelaskan pada sub bab sebelumnya. Seperti contoh perbedaan kebudayaan atau keanekaragaman budaya antar golongan di negeri ini. Misalnya perbedaan kebudayaan bali dan bugis. Bali yang didominasi oleh umat hindu dan bugis yang didominasi oleh umat muslim bisa saja memiliki pemahaman yang berbeda. Misalnya bugis memahami bahwa masyarakat bali yang menaruh sesajen di depan rumahnya merupakan hal yang dilarang oleh agama. Sementara menurut bali, mungkin saja itu adalah sebagai rasa syukur atau mengharap sesuatu kepada roh-roh atau dewa-dewanya. Sehingga jika kedua pendapat ini dipertemukan akan mungkin terjadi konflik.

Terlepas dari budaya dalam negeri, konflik mengenai masuknya budaya barat dalam Indonesia yang dari dulu terkenal dengan budaya timurnya. Hal ini juga mengundang terjadinya konflik, sehingga pecahlah demontrasi terhadap terbitnya RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi beberapa waktu lalu. Banyak yang setuju banyak pula yang tidak setuju akan hal tersebut sehingga tak sebentar masalah ini teratasi.

Adapun keanekaragaman atau kemajemukan budaya di Indonesia juga banyak menimbulkan konflik di sana sini. Tetapi, hal ini kebanyakan terjadi karena adanya kemajemukan masyarakat dalam beragama. Belum terlupakan tragedi di Ambon beberapa waktu lalu dimana adanya perang antara penganut kristen dan penganut islam. Selain itu, konflik juga terjadi di Sampit (Kalimantan Tengah), Poso dan sebagainya. Konflik ini tidak saja dapat merugikan masyarakat yang sedang konflik, tetapi juga rakyat sipil.

Contohnya saja yang marak akhir-akhir ini antara perang Libanon dan Israel, Amerika dan Afganistan, Israel dan Palestina, Iraq dan Amerika dan lain sebagainya. Dimana keegoisan dapat menghancurkan dunia dan merugikan rakyat sipil hingga anak-anak dan wanita yang tidak berdaya harus mati dalam pertempuran yang sengit itu. Tidak bisa diketahui kapan konflik itu bisa berakhir di bumi kita ini.

Selain konflik budaya yang terjadi di tanah air, konflik agama juga tidak bisa terlepas dari negara tercinta ini. Belum hilang dari ingatan konflik agama yang terjadi di Ambon beberapa tahun silam, akhir-akhir ini terjadi lagi konflik bahkan saling bakar-membakar rumah ibadah sebagaimana yang terjadi di Poso beberapa waktu lalu. Ada lagi kasus baru yakni konflik antara massa FPI dan umat Ahmadiyah, mahasiswa dan polisi, para sesama anggota legislatif, para gubernur, dan lain sebagainya. Entah sampai kapan konflik ini hilang dari dunia dan indonesia pada khususnya hingga berganti pedamaian dalam kemajemukan.

Jadi, semestinya sudah ada kesadaran dari diri setiap manusia untuk tidak memperturutkan nalurinya yang selalu ingin konflik dan konflik. Perbedaan pendapat merupakan hal yang wajar tetapi tidaklah seharusnya kita saling beradu seperti yang telah terjadi. Tetapi bagaimana kita saling bergandeng tangan menuju persatuan sesuai dengan semboyan negara kita yang lahir sejak zaman dulu yakni bhineka tunggal ika, berbeda-beda tetapi satu jua. Serta mendalami kehidupan berdasarkan Pancasila yang sama sekali tidak memandang satu golongan tetapi memprioritaskan kemakmuran yang berkeadilan seluruh warga Indonesia.

Keanekaragaman Budaya yang Menjadi Potensi Kekayaan Alam

Kemajemukan budaya di dunia dapat pula menjadi potensi kekayaan alam. Kita ketahui bahwa India, Cina, Jepang, Indonesia, Arab, Eropa dan sebagainya memiliki ciri budaya yang berbeda. Misalnya India yang memiliki ciri budaya yang melahirkan hal-hal yang khas misalnya tari-tariannya, baju sari, masakan kari yang pedas dan wanita-wanita yang cantik rupanya. Sementara Jepang yang terkenal dengan keramahannya, kimono, teknologi mutakhir, dan sebagainya. Sementara Indonesia dengan seribu pulaunya, aneka bahasa, baju adat, agama dan sebagainya. Kesemuanya ini merupakan potensi kekayaan alam. Bisa dibandingkan jika dunia hanyalah padang pasir, gurun, atau hanya hutan pinus bahkan hanya padang rumput yang luas. Bagaimana jika semua manusia dibumi hanya memiliki mata pencaharian bertani, berladang dan mengabaikan laut yang juga merupakan kekayaan alam? Bagaimana jika semua negara hanya memiliki satu jenis pakaian adat yaitu kimono? Bisa dibayangkan dunia hanya bersifat monoton. Tak ada yang menarik sehingga tidak ada wisatawan asing yang ingin berkunjung ke negara lain. Tidak ada wisatawan yang mau membeli hasil karya seni dari setiap negara, karena menganggap karya seperti itu juga ada di negaranya.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa keanekaragaman budaya dapat menjadi potensi kekayaan alam yang mana dilihat dari kepandaian masyarakat yang dapat mengolah alamnya. Tidak membiarkan alam terabaikan. Mengolah alam dan menjadikannya panorama yang khas dan berbeda dengan negara lain, dengan kata lainnya ’tidak ikut-ikutan’. Khususnya untuk menarik wisatawan asing yang juga menjadi pemasukan untuk modal devisa negara.

Jadi, keanekaragaman budaya, ada baiknya dan adapula buruknya yang ditimbulkan. Semua tergantung dari sikap untuk menilai baik buruknya suatu perbedaan yang ada di negara sendiri dan juga di dunia.

Photobucket

About these ads

7 thoughts on “KONFLIK

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s