NOVEL BELENGGU DALAM PROSPEKTIF STRUKTURALISME


Secara garis besarnya, Strukturalisme Perancis memandang berbagai unsur-unsur yang ada dalam karya sastra. Misalnya Bahasa yang khususnya dinilai dari segi linguistiknya. Dan yang paling banyak dinilai dari strukturalisme adalah unsur narasi yang disuguhkan dalam suatu karya sastra.

Novel ‘Belenggu’ merupakan novel fenomenal yang ceritanya sangat menarik. Mengandung banyak makna dan menyuguhkan cerita berdasarkan adat setempat yakni ada Jawa.

Yang akan saya analisis pada novel ‘Belenggu’ ini adalah cerita yang disuguhkan. Ceritanya sangat menarik dan dapat diterima oleh pembaca. Tidak terlalu sulit untuk dicerna dan memiliki banyak pesan-pesan moral.

Berdasarkan perpektif Strukturalisme, ‘Belenggu’ sudah mencapai standar cerita yang menarik. Strukturalisme sendiri menilai cerita dari banyak unsur. Yang paling banyak dibahas dalam strukturalisme sendiri adalah mengenai jenis atau cara menceritakan apakah suatu karya itu diceritakan dengan pola deduktif atau pola induktif. Atau suatu cerita itu diceritakan dengan pola sebab-akibat dan sebagainya.

Dianalisis dari para strukturalis yakni pendapat dari Bremond dan Greimas yang berbeda terutama dalam konsep mereka tentang waktu. Seperti Bremond sendiri menentukan, esensi cerita bagi Greimas terletak dalam saling terpengaruhya relasi-relasi nontemporal yang melebihi ”terjadinya” peristiwa-peristiwa yang diceritakan. Bagi Bremond di lain pihak, esensi cerita terletak dalam ”ke-akan-an”, yang mengandung kemungkinan masa depan yang berubah-ubah. Greimas melukiskan pandangan yang lebih statis dan historis. Meskipun tidak bisa disebut sebagai ahli sejarah di antara para naratolog Prancis, harus diakui bahwa Bremond secara teoritis mempertahankan dinamisme yang diasumsikan oleh para ahli sejarah. Ia melakukan ini atas nama kebebasan yang tidak peduli pada ”kendala semiotika” Greimas : ”Bagi kita impresi kebebasan, kebenaran, dan keindahan, yang selalu mendorong orang untuk merangkai cerita, bukanlah ilusi yang menyembunyikan ”permainan kendala semiotika”. Jika ada permainan, itu bukan permainan yang kita alami, melainkan permainan PADA kendala-kendala tersebut, dengan membebaskan pengalaman yang mengeksploitasi dan mengatasi mereka” (Bremond, 1973:101).

Hal di atas sangat sesuai dengan karya ’Belenggu’. Cerita ’Belenggu’ memiliki akhir yang berubah-ubah dan tidak dapat ditebak oleh pembaca. Kita ketahui bahwa cerita ketidakharmonisan Dokter Kartono dan Tini. Kita membaca bahwa rasa sayang Dokter Kartono kepada Tini berubah karena Tini acuh tak acuh jua. Tidak peduli kepada suaminya. Sehingga akhirnya dokter Kartono beralih kepada Yah yang penuh kasih sayang kepadanya. Terlalu berlika-likunya kehidupan rumah tangga Dokter Kartono dan Tini membuat pembaca sulit menerka ending dari cerita.

Pada akhirnya cerita ternyata juga berubah-ubah. Dokter Kartono kembali sayang kepada Tini karena Tini mulai sayang kembali kepada Dokter Kartono. Dilihat pada halaman : 140.

Malamnya Tono bertemu lagi dengan Yah, lalu dikabarkannya tentang maksud Tini itu, tentang dia menahannya, jangan dulu terus memutuskan perhubungan. Mula-mulanya Yah merasa tidak segan, Tono cinta juga rupanya akan isterinya, dia sama sekali tidak ingat nasib Yah. Perasaan tidak senang itu sebentar saja. Memang benar begitu. Bukan dia yang mesti tinggal, tapi isteri Tono. Kalau dia sudah pergi, Tono akan melupakan dia, suami isteri akan berbaik lagi. Ah, dia cuma perempuan sambilan saja, perintang-rintang waktu.

Dari cerita di atas dapat dipastikan kalau Tono masih mencintai Tini sehingga ia tidak mungkin dapat beralih kepada Yah lagi. Tetapi ternyata pada halaman 150 :

”Tono, kekasihku, jiwa hatiku, mengapa menangis, mengapa rusuh. Kita tiada berjauhan, dekat-dekat saja, Tono.”

Dari perkataan Yah di atas, Tono terdengar dekat dengannya. Suara Tono sangat jelas. Berarti akhirnya, ternyata Tono juga mencari-cari Yah.

About these ads

6 thoughts on “NOVEL BELENGGU DALAM PROSPEKTIF STRUKTURALISME

  1. Thanks sebelumnya karena dah visit Blog ini.
    sebenarnya ada 3 tokoh utama di dalam Belenggu.
    dr. Tono : seorang pria yang baik hati, alim, sabar dan penyayang. Walaupun ia diacuhkan oleh istrinya tetapi ia tetap memikirkan istrinya. Hanya saja kelihatannya ia tidak berdaya oleh perlakuan istrinya yang selalu menunjukkan muka masam.Dokter ini sangat disenangi oleh pasiennya.

    Tini: inilah istri dr. Tono yang acuh. Ia sebenarnya adalah wanita yang cantik. tapi ia sangat dingin terhadap suaminya. seolah ia tidak pernah memiliki suami. se-rumah tapi tidak pernah saling sapa.

    Yah : ini adalah teman lama dr. Tono yang sudah lama mencintai Tono. ia penyanyi panggung. Ia sangat penyayang. ia menjadi obat kegundahan hati dr. Tono. Ia-lah yang selalu menghibur Tono di saat sedih karena istrinya.

    mungkin cukup informasinya, untuk lebih jelasnya, baca novel Belenggu. Ok!! ^_^

    • @ulaa: mm.. Kalau unsur intrinsik & ekstrinsik novel Belenggu, coba adek cari sendiri deh. Tapi saya punya contohnya. Lihat tulisan saya yang berjudul unsur2 intrinsik & ekstrinsik drama man n the moon marigolds. Penjelasannya cukup lengkap di situ. Okeh! Slamat membaca :-D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s